THERAPY PRE EKLAMSIA BERAT

 THERAPY PRE EKLAMSIA BERAT Apa Itu Pre Eklamsia Berat ( PEB ) ?   Preeklampsia ditandai dengan adanya tekanan darah tinggi dan protein pada urine tanpa disertai kejang, sedangkan eklampsia adalah komplikasi lanjutan dari preeklampsia yang ditandai dengan terjadinya kejang pada ibu hamil. Preeklampsia adalah gangguan kehamilan berupa tekanan darah tinggi yang disertai dengan meningkatnya kadar protein dalam urine ( proteinuria) atau gangguan fungsi hati . Kondisi ini jarang terjadi, namun dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan komplikasi serius pada ibu maupun janin. Sementara Peb atau preeklampsia berat adalah masalah kehamilan yang lebih parah Preeklamsia umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Jika tidak terdeteksi sejak dini, maka membuatnya semakin sulit untuk dikendalikan. Terdapat dua jenis preeklamsia yaitu, preeklamsia berat dan ringan yang harus ibu hamil ketahui. PRE EKLAMSIA RINGAN Preeklampsia ringan umumnya ditandai dengan kehamilan berus...

FLUID CHALLENGE

 FLUID CHALLENGE

Fluid challenge dalam shock adalah intervensi klinis penting yang digunakan untuk menilai apakah pasien akan responsif terhadap cairan, artinya apakah pemberian cairan intravena akan memperbaiki kondisi hemodinamik (misalnya meningkatkan tekanan darah atau curah jantung).


🔍 Tujuan Fluid Challenge

  • Untuk meningkatkan preload jantung dan melihat apakah curah jantung meningkat secara bermakna (fluid responsiveness).

  • Digunakan terutama pada pasien shock (misalnya shock hipovolemik, septik, atau kardiogenik ringan) untuk menentukan kebutuhan cairan lebih lanjut.


📋 Indikasi

Pasien dengan tanda-tanda shock:

  • Hipotensi (MAP < 65 mmHg)

  • Takikardia

  • Tanda perfusi buruk: kulit dingin, oliguria, penurunan kesadaran, laktat tinggi


⚙️ Prinsip Fluid Challenge

  • Pemberian cairan dalam jumlah tertentu dalam waktu singkat, sambil monitor hemodinamik ketat.

Protokol Umum:

  • Jenis cairan: Kristaloid (misalnya NaCl 0.9%, Ringer Laktat)

  • Dosis: 250–500 mL selama 10–15 menit (bisa disesuaikan berdasarkan kondisi pasien)

  • Pemantauan:

    • MAP (Mean Arterial Pressure)

    • CVP (Central Venous Pressure) jika tersedia

    • Urine output

    • Laktat

    • Tanda vital

    • Bila tersedia: CO (Cardiac Output), Stroke Volume (SV), SVV, PPV, atau USG bedside


Responsif terhadap cairan jika:

  • Peningkatan Stroke Volume atau Cardiac Output ≥ 10–15%

  • MAP naik secara bermakna (misalnya >65 mmHg tercapai)

  • Tanda perfusi membaik (misalnya: perbaikan kesadaran, warna kulit, output urin)


Tidak Responsif (Non-Responder):

  • Tidak ada perubahan atau perubahan minimal meskipun preload meningkat

  • Risiko overload cairan (edema paru, peningkatan CVP tanpa peningkatan CO)

  • Pertimbangkan terapi lain: vasopressor, inotropik


⚠️ Perhatian Khusus:

  • Jangan over-resusitasi ➜ risiko edema paru, asidosis, disfungsi organ

  • Evaluasi terus-menerus

  • Pada pasien dengan risiko overload tinggi (misalnya gagal jantung, CKD), bisa gunakan tes pasif elevasi tungkai (Passive Leg Raising Test) untuk menilai fluid responsiveness tanpa memberikan cairan secara aktual


🔄 Alternatif Fluid Challenge: Passive Leg Raising (PLR)

  • Mengangkat kedua kaki pasien ke 45° dari posisi supin ➜ memobilisasi sekitar 300 mL darah dari tungkai ke sirkulasi sentral.

  • Jika curah jantung atau tekanan darah naik → pasien responsif terhadap cairan


Comments

Popular posts from this blog

CARA MENGHITUNG STOCK OBAT

Total Recordable Incident Rate (TRIR) atau Total Recordable Injury Frequency Rate (TRIFR

Apa Arti IgG dan IgM Tifoid Positif dalam Tes?